Ok. Here goes. If I'm gonna talk about why I haven't written anything for a while... it'll takes a loooootttt of time. Hohoho... That's why I'm not going to talk about it :)
I am going to talk about my new hobby. Well, it's not new, new. But yeah, you can call it new. Because the last time I did coloring was... I don't know... ten zillions ago, perhaps *LOL*
So... my new hobby is... coloring ^^~

It all started when I brought my coloring pencils to the office. And when my Korean associate saw me playing with it, she said that in Korea... they have adult coloring book.
Yeaps. I considered it as a clue.
So, that time... I started to browse about the coloring book. And I found one, called "My Own World". Read it on someone's blog and then went straight to Gramedia online.
I was soooo happy when the book was finally... landed on my lap. Hahahaa...
But too bad, the coloring pencils I had that time was just... old ones. Though I still can use it *like... seriously until now*, I needed more colors, so... I bought more. I am definitely not a cheapskate when it comes to something I like, huh? Well... is there anyone out there who does? *LOL*

You see the picture on the side? Took me more than 2 hours to finish it. It has oh so many details and I don't wanna miss a thing :p
Sooooo proud of myself. It's beautiful, right?
You see how those colors blend? It is just.... beautiful.
Ok. Should stop my own self-praising. Hahahaa...
Salah satunya adalah mencoba membuat pancake dengan adonan jadi. Eh, belum sepenuhnya jadi, tapi setidaknya saya tidak harus takar ini dan itu.
Awalnya main ke Food Hall untuk beli es krim, tapi pada akhirnya... es krim tak terbeli dan tergantikan oleh 3 item. Pancake mix, Kraft quick melt, dan satu botol jus jambu.
Kita bahas perkara pancake dulu. Ada 2 merek yang tadi terpampang di rak Food Hall. Salah satunya, yang saya beli dan saya pajang di samping ini. Dan yang satu lagi, saya lupa namanya apa, tapi kalau saya beli itu... saya masih harus menambahkan tidak hanya telur dan air, tapi juga susu cair. Berhubung malas, saya pilih yang lebih simpel. Yaps. Pilihan saya ini hanya perlu menambahkan telur kocok dan air.
Semoga saya membuat pilihan yang tepat. Tapi... kalau ternyata kurang yummy, saya bisa beli yang lain, tho? Hihihi...
Sekarang kita ke perkara keju cepat cair. Alasan beli? Nothing. Hanya sekedar ingin beli. Tapi tadi sepanjang perjalanan *kesannya jauh banget* putar kepala.
"Enaknya diolah seperti apa?", tanya saya pada diri sendiri. Pada akhirnya, saya sampai pada sebuah keputusan. Ga perlu ribet. Coba aja dijadikan filling dari si adonan pancake. Sounds weird, maybe... but I am going to give it a try. Whohooooooo.....
I am pretty excited, because this will be the first time for me making pancake not from scratch! 

Wish me luck.... ;) 


Pepatah yang bilang, "Sehat Itu Mahal" adalah benar adanya. Setelah dipikir-pikir, lelah juga mengeluarkan lembaran ratusan ribu, untuk bayar dokter, SETIAP BULAN.
Iya. SETIAP BULAN.
There is definitely something wrong with me. Sejauh ini, analisa hanya berujung pada kenyataan pada fakta... saya menggendudh. Well, I am. I'm not going to deny it. I am getting fatter and yes, I accept the fact :)
Masalah ini nih, yang harus segera ditangani.
Seperti mendapat pertanda dari alam, kemarin - di saat saya harus istirahat saja di rumah - saya membaca sebuah artikel tentang food combining di majalah Intisari. Sejujurnya, bukan satu ataupun dua kali saya mendengar perihal FC ini. Beberapa orang kenalan saya kebetulan benar-benar menjalaninya dengan ketat. Tapi entah kenapa, minat dan ketertarikan untuk menjalaninya... hampir tidak ada. Belum apa-apa, pikiran "Mau makan saja, kok ribet banget pilih ini itu" muncul, padahal... kegiatan pilih memilih makanan pasti terjadi. Iya 'kan?
Dasar sayanya pun... malas! Dengan pendirian teguh dan keyakinan hidup-hanya-sekali-jadi-nikmati terus bertengger dalam diri.
Artikel Intisari kemarin, entah kenapa menggugah sebagian diri saya. Bahkan memunculkan, "Maybe I should give this FC thing, a try?"
Sebuah sudut kecil dalam diri sebenarnya tercengang dengan pernyataan (atau mungkin lebih tepatnya pertanyaan(?)) itu, tapi berhasil menggerakkan jari jemari untuk kirim pesan ke suami.
"Mas, nanti tolong beliin buah, ya?", begitu ketik saya.
Intinya... mau memulai. Walau mungkin belum akan sepenuhnya memenuhi aturan FC itu sendiri, tapi saya berniat menambah kadar basa dalam tubuh. Cukup yakin kalau saya tidak akan mampu tidak mengkonsumsi makanan-makanan yang menyumbangkan asam ke tubuh, but I will try. Apalagi saya punya bakat penyakit turunan dari Bapak. Jadi... mau tidak mau? Hihihi... 

Semoga... semoga... bukan hanya semangat beberapa hari saja.

Bismillah...

Whohoooooo......
Saya ga' lulus Hari Uji Coba!
Tunggu dulu, apa yang dimaksud dengan Hari Uji Coba?
Hari Uji Coba adalah hari yang saya ciptakan sendiri untuk menguji ketahanan diri, dan jatuh pada tanggal 29 Juni 2015. Artinya, kemarin.
Menguji ketahan diri di sini maksudnya... well, agak panjang ceritanya. Jadi, sudah berbulan-bulan saya mempertimbangkan untuk berhenti kerja. Alasannya? Jenuh. Ditambah beberapa alasan lain. Tapi niatan itu sama sekali jauh dari terlaksana. Suami... setuju saya resign. Tapi orang tua saya yang... menyarankan untuk cari pekerjaan lain dulu, sebelum akhirnya hadir dengan keputusan berhenti dari kantor yang sekarang.
Ibu saya sendiri memberikan satu alasan yang masuk akal. Masuk akal pake banget. Kata beliau, "Kamu biasa kerja. Kalau tiba-tiba di rumah, mau apa? Pasti bosen."
Itulah yang menjadi latar belakang munculnya Hari Uji Coba *grin*
Ya, kebetulan memang ada gunung pakaian kotor yang harus saya cuci. Daripada saya dan suami kehabisan baju bersih, yang bisa jadi alasan untuk belanja baju baru. Hahaha...
Kebiasaan cuci-cuci ini berubah sepanjang Ramadhan. Adanya perubahan jam kerja bikin saya harus cuci di weekend. Ndelalah, weekend kemarin ini... kami pulang ke Bandung. Jenguk mertua dalam usaha jadi anak dan menantu yang baik. Eits, tanpa maksud pencitraan ya :)

Kronologis 29 Juni 2015
Sesudah shalat Subuh,
Iya.
Telat banget kalo' baru mau cerita liburan hari ini, ya?
Saya mah... dah sampe' Jakarta dari hari Kamis, tanggal 11 Juni.
Ceritanya, ga' ada kerjaan, dan jalan-jalannya sampe' Korea. Iya. Lagi.
Ditanya bosen atau ga'... sebelum berangkat sih, cukup excited. Sampai... bela-belain beli  'mainan' baru. Berbeda dengan yang waktu itu pernah saya post di sini. Dapetnya malah merk lain, dan suami... lebih restu. Permasalahan muncul waktu saya di Korea, malah. Bosen. Bingung mau ke mana. Pengennya... lebih ke nongkrong-nongkrong, santai, dkk. Tapi, kali ini saya ga' pergi sendirian. Ada rekan jalan-jalannya. Partner siaran saya sendiri.
Nah, berhubung dia baru pertama kali ke Korea, sayalah didapuk menjadi guide. Wew... definitely not an easy job, yes? Lelah.
Apalagi, sepanjang di sana... yang ada di kepala cuma suami. Kasihan. Baru satu bulan nikah, udah ditinggal-tinggal istrinya. Huhuhu.... Walau yang bersangkutan mungkin ga' keberatan, tapi entah kenapa rasanya ada yang... kalo' kata orang Jawa sih, nggandol. Alhamdulillah-nya, selama saya tinggal, do'i baik-baik aja di Jakarta :)


Korea... tidak terlalu banyak berubah.
Masih nyaman untuk ditinggali. Transportasinya juga menyenangkan, just the way I like it. 
Yang ga' nyenengin adalah... kursnya yang menggila. Hish!
Plus... agak ga' nyaman karena MERS itu. Pemberitaan di Korea, sebenernya ga' bisa dibilang biasa juga, ya. Memang jadi isu yang lumayan 'lah. Ndelalah... di Indonesia pun, macam hebooohh. Jadi banyak yang ingetin untuk selalu pake' masker 'lah, rajin-rajin cuci tangan 'lah, dan lain-lainnya.
Yang tadinya santai... dapet pesan ini dan itu malah jadi parno'.
Saya harus bersyukur tingkat advance karena... pemilihan waktu berangkat dan pulangnya bagus. Alhamdulillah. Sesampainya di Korea, ga' merasakan summer. I just still can't say that it was summer. Anginnya kenceeeeeng banget! Bukan angin kering. Tapi memang angin yang masih hawa-hawa dingin. Ga' cuma itu. Tapi... selama di sana, MERS belum terlalu heboh, walau berhasil bikin banyak orang parno' sampai beberapa tempat yang biasanya rame jadi sepi.
Di hari pesawat saya lepas landas... sepertinya menjadi hari pertama musim panas, karena panasnya Masya Allah. Pake BANGET!
Eh, baru sadar. Jangan-jangan saya ngrasain hawa lebih panas karena ga' sabar pengen pulang dan ketemu suami? Bwahahaa...

Ini kalo' dia baca... pasti langsung mual!
Hahaha...
Yang nulis aja geli, apalagi yang baca?

Demikian cerita singkat, padat, dan jelas!
Sebenarnya... banyak yang mau saya ceritakan, maksudnya... tulisan yang bener-bener niat gitu, tapi masih kumpulin niat mantap :p 

Taelaaaaahhh...
Ceritanya pengen ikutan blogger lain gitu, yang bikin review vendor pernikahan.
Well, kalau mereka bisa menyempatkan bikin... kenapa saya engga?
Atas dasar menantang diri sendiri inilah, sayapun bercerita *wink*
Nikahnya sudah hampir satu bulan lalu, tapi cerita-ceritanya baru sempat sekarang. Baru ada waktu *uhuk* Kalau dipikir-pikir, kasihan ya si waktu, selalu jadi kambing hitam, padahal semuanya balik ke yang menjalani waktu itu #eeaaa
Oke oke, FOKUS! << tampak selalu menjadi masalah utama, kapanpun :(

Di pernikahan yang berlangsung 25 April lalu, saya menggunakan beberapa vendor. Dan di saat inilah... saya mau kasih penilaian yang saya usahakan se-obyektif mungkin.
Oke. Here goes..

1. Wedding Venue: Gedung ANTAM, TB Simatupang
Setelah ngider sana-sini, bersama dengan Ibu akhirnya memutuskan untuk memilih ANTAM. Dari awal, kami ngobrolnya sama ibu Yetty, yang aslik... baik hati banget. Alhamdulillah banget bisa dapat bantuan dari yang bersangkutan.
Lokasi gedung... tentunya strategis. Lahan parkirnya pun sudah diperluas, jadi cukup yakin kalau bisa menampung kendaraan para tamu undangan. Fasilitas yang dikasih juga cukup baik kok.
Oia, faktor gedung yang cukup dekat sama rumah saya, jadi mobilitas cukup mudah.
Yang perlu diperhatikan adalah biaya tambahan yang harus dibayarkan ketika pakai vendor yang bukan rekanan ANTAM. Tenang, penjelasan mereka di booklet yang diberikan cukup detil kok. Saya sendiri ga bisa pajang bookletnya, karena saya booking dengan harga 2014. Sementara di tahun 2015 ini sudah pasti berubah.
Ada satu yang agak disayangkan juga sih. Tempat yang dijadikan buat studio fotonya ga oke :( Eh... atau itu urusan sama dokumentasi ya? Intinya sempit. Huhuhu
Nilai: 4/5

2. Catering, dekorasi, MC: Puspita Sawargi (PS)
Untuk urusan catering, sebenarnya saya cuma penggembira saja. Hehehe...
Pemilihan PS pun berkat bantuan banyak blogger, sebenarnya. Banyak yang kasih penilaian positif, ditambah waktu test-food, sukses banget. Waktu itu saya kebagian marketingnya... mba Poppy, yang menurut saya bisa sangat memfasilitasi keinginan ini dan itu yang datang dari keluarga (baca: dari ibu saya). Hihihi... Selain menu yang bervariasi, bu Lynda sebagai pimpinan PS pun cukup kooperatif. Beliau tanpa segan kasih tahu... mana makanan yang pas, mana makanan yang kurang enak, dll. Eh, yang ini tidak boleh lupa saya sebutkan. Beliau juga ga' segan-segan kasih diskon. Hehehe...
Hasil tanya beberapa teman yang hadir di hari H, mereka bilang makanannya enak-enak. Bahkan ada yang rela antri beberapa kali di gubug yang sama.
Alhamdulillah... ga' salah pilih. Nah, kalau menurut lidah saya sendiri, yang sedeeeeuuppp banget adalah lidah sapi-nya. Cuma itu yang bisa masuk ke dalam perut, karena saya ga' selera makan sama sekali setelah turun pelaminan. Entah kenapa rasanya kenyang sekali. Efek kebawa diet mungkin ya? *yeah rite!*
Untuk dekorasinya... saya puas. Sukak. Sesuai dengan yang saya pilih. Horeeeeeee :) :)
Sementara untuk pemilihan MC-nya, yaitu pak Marino, saya juga sukak. Njawani sekali. Bisa memenuhi permintaan orang tua.
Nilai: 4/5

3. Kebaya Akad Nikah: House of Asri Welas
Kembali menuruti permintaan Ibu. Ya semata-mata karena memang Ibu jauh lebih paham daripada saya kalau udah sampe' urusan baju dan jahit-menjahit. Tentu saja untuk akad nikah, warna kebaya yang dipakai adalah putih. Untuk segala disain dan lain-lainnya, saya percayakan ke mba Asri. Selama ga' terlalu aneh-aneh modelnya (baca: terbuka). Perkara saya cukup paham dengan ukuran tubuh sendiri. Badan yang ginuk-ginuk begini ini, yang tentu saja membuat saya tidak cukup percaya diri pake' yang... terbuka. Bahkan di punggung sekalipun. Hahahaa....
Tapi mba Asri berhasil dan sukses sangat memenuhi tuntutan pengantin yang satu ini *wink wink* 
Terus teruuusss... karena mba Asri penari, jadi tahu seperti apa lekuk baju yang sebenarnya #eeeaaa *bahasanya sok banget* Oia, bustier buatan mba Asri juga beda dengan yang pernah saya punya sebelum-sebelumnya. Lebih nyaman tentunya :)


Nilai: 5/5

Bertemankan "Go Crazy"nya 2PM, saya bercerita!
Iyesh. Bulan ini kepala dipenuhi oleh BM yang akhirnya bikin si Mas nyerah. Ow... tenang saja. Sejauh ini tidak pernah tidak bersyukur punya pasangan hidup seperti dia, kok. Hihihi... I do know that I do have to be grateful having him as my husband.
Eh, tapi kok ngebahas itu. Ini mau ngebahas BM saya ya, ceritanyaaaaaa...
Jadi begini lho, belakangan ini mulai terasa penyesalan mendalam karena sudah menjual kamera kesayangan. Huhuhu... Rasanya tangan tuh, hampa banget gitu, ga' ada pegangannya *kecuali si Mas* #saywhat 
Penyesalan itulah yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk browsing sana sini, mencoba untuk mendapatkan pengganti. Bertemulan dengan yang di bawah ini ^^~ 


Si Mas langsung kasih approval untuk yang satu ini. Horeeeeeeeee ^^~
*jingkrak jingkrak gembira*
Pemilihan tidak hanya berdasarkan bentuknya yang lucu, tapi juga hasil baca reviewnya sih, lumayan lah ya. Cukup oke kok. Bisa 'lah mengakomodasi saya yang... kebanyakan mau dan ga' mau beli kamera, yang spesifikasinya dah pernah saya pakai. Begitu lhooooo
Lampu hijau dari si Mas membuat diri ini lebih yakin dan percaya diri #eeeaaaa
Tapi ya tapiiii.... saya masih akan harus menahan diri dulu. Setidaknya sampai dapat kepastian, visa berhasil didapatkan atau tidak *finger cross*

We'll seeeeeee.........